web stats

ignore

Kamis, 18 September 2014

maaf
mungkin kebanyakan dari kita sangat sulit untuk memberikan maaf pada orang yang telah menyakiti kita.
baik secara fisik maupun psikis
namun meminta maaf pun sangat sulit
terlebih kita harus menurunkan atau bahkan menghilangkan gengsi kita
dan kebanyakan. orang yang meminta maaf selalu dianggap yang salah
meskipun ada sebagian orang sadar bahwa meminta maaf adalah cara terbaik untuk menghilangkan emosi
namun
bisakah dari kita meminta maaf pada orang yang masih hidup, sedang kita telah mati
dan kesalahan itu sebenarnya sungguh menyakiti hati
namun ada kalanya itu sebaliknya
dan kini. ada yang harus memaafkan kesalahan orang yang telah pergi
membiarkan ia tenang dalam perjalanan di dunia barunya
biarkan kesalahan itu pergi
dan semoga keikhlasan terpatri
karena maaf saat kita akan pergi seperti tak berarti

perjalanan singkat (pinggiran kota) 1

Rabu, 13 Agustus 2014

pagi itu saya mulai mengayuh sepeda
ditemani udara pagi yang masih segar dan basah oleh guyuran embun
lama-lama saya mulai menelusuri petak demi petak rumah
dan tiba-tiba kenangan saya menuntun untuk ditelusuri

dulu. ya dulu sekali
masih jarang rumah yang bertingkat seperti rumah yang baru saja saya lewati
rumah bertingkat di desa sangatlah jarang, dan hampir tidak ada
ada juga itu hanyalah ditinggikan pondasinya
sekarang tidak, rumah-rumah seperti berlomba untuk saling mana yang tertinggi
dan itu belum cukup dengan ditambahi tembok yang mengelilinginya

dulu, ya dulu sekali
saat hari minggu seperti ini di sepanjang jalan akan banyak anak yang sibuk bermain
mulai dari petak umpet, gobak sodor, patil lele, bekel, sepak bola dan lain-lain
namun kini, hari minggu hanyalah pengguna jalan yang sibuk berwira-wiri
anak-anak sibuk dengan televisi dan perangkat canggih
keakraban sejati mulai jarang terpatri
saya tengok kanan kiri, hanya ada tiga anak yang sedang duduk di pinggir jalan yang sedang bercakap-cakap

dulu, ya dulu sekali
saat saya masih kecil dan tak tahu apa arti hidup
semua itu saya jalani
bermain dengan teman disepanjang pinggir jalan, walau kadang ditegur orang karena terlalu ke tepian
dan saat bermain petak umpet, kita izin pada pemilik rumah yang memiliki pondasi tinggi sebagai tempat persembunyian
ya, dulu itu sangat ramai
dulu itu penuh dengan kebersaan

Senin, 11 Agustus 2014

hari senin yang cerah
dan saya mengawali hari ini dengan sebuah senyuman saat saya baru membuka mata
dengan hawa dingin khas musim kemarau di pagi hari yang menusuk kulit, saya mulai beraktivitas
cuci muka dan mulai beres-beres kamar lalu makan pagi
lanjut ke pekerjaan yang telah lama saya vakum-kan
ya, memantau kegiatan orang-orang disekitar saya
senin memang hari yang ceria untuk anak-anak sekolah
dimana semangat mereka terpancar dari sorot matanya
mencangklong tas dan mulai memadati halaman sekolah
kali ini saya berada di sebuah taman kanak-kanak merangkap play group
pagi hari mendengar suara kegembiraan mereka, bertemu teman-teman sebangsanya dan mulai bersendau gurai
ya, meskipun ada beberapa anak yang masi ngambek tidak mau masuk kelas hal itu tidak mengapa
masa anak usia di bawah 7 tahun memang belum saatnya menerima pelajaran berat khas TK saat ini
apalagi yang masi PG, mereka haruslah bermain untuk perkembangan kreativitas mereka
namun itu tidak saya temukan disini
mereka diforsir untuk menjadi "anak pandai"
oho, tak masalah itu bukan bidang saya untuk mengkritisi
terlihat ada beberapa orang tua yang menunggu di luar kelas, sibuk bergosip ria.
itu saja yang bisa saya tulis untuk mengawali edisi bulan agustus pertengahan tahun ini
sekian

Kamis, 17 April 2014

gurat putih mencoreng kegelapan langit malam
bersembunyi pada buram cahaya bulan
terjerumus pada sepinya dingin curam
sesosok tubuh teronggok dibawah remang lampu perkotaan
menatap masa depan yang seperti terus menjauh dari jangkauan
mengharapkan masa-masa cemerlang kembali lagi seperti bulan yang senantiasa hadir dalam malam-malam tenang
namun semua hanyalah sebuah harapan
yang itu datang dari kepasrahan jiwa oleh keadaan
tak tahu harus kapan terbagkitkan
dengan sebuah kekuatan dan kesungguhan yang menegakkan

dalam bayangan bintang
setitik harapan mengintip dari kejauhan
berharap sosok itu mau menghampirinya
untuk merubah seperti yang dimaunya

UAN

Senin, 14 April 2014

tanggal 14 april 2014
hari ini awal ujian nasional untuk SMA
kenangan akan memori tahun-tahun lalu akan waktu itu
bagaimana perjuangan panjang siswa-siswi yag berkutat dengan buku
perjalanan selama 3 tahuan akan ditebus dengan waktu 4 hari yang sedikit pilu

namun untuk saya, kenangan itu berlalu dengan mudah
bukan menyepelekan
namun saya telah menyerahkannya pada sang Pencipta

bukan saya sombong
hanya mensyukuri apa yang Tuhan titipkan dalam tempo cepat

bukan dengan cara instan
namun dengan kesungguhan dan kelonggaran

cerita saya :
saya bukan tipe orang yang mudah untuk belajar
mengatur waktu saja saya masih keteteran
namun karena saya tahu saya tidak bisa seserius belajar seperti yang lainnya, maka saya melekukan hal ini

jam menunjuk pukul 3 pagi
langit masih juga gelap
hawa dingin belum sepenuhnya turun
saya terbangun oleh tangan halus yang tak terlihat
karena sebuah doa yang saya panjatkan sebelum terlelap
"jika Engkau meridhoi saya bangun pada pukul 3 pagi, maka bangunkanlaj"
lalu saya mengambil beberapa kitab atau buku pelajaran
keluar dari kamar yang masih penuh teman-teman seasrama yang terlelap
duduk didepan jendela, berselonjor kaki dibawah meja, menghadap kiblat
hal itu berlangsung hingga adzan subuh berkumandang
semua usai dan esoknya begitu lagi

sebuah pekerjaan yang dimulai dari awal try-out hingga UAN berjalan
dan hasilnya, Tuhan memberi apa yang menurutNYA diberi
dan itu sangat menentramkan
dalam mengerjakan soal-soal pun tak terbersit keraguan
namun ritual belajar diwaktu akhir malam tersebut juga dibarengi dengan shalat sunnah malam
agar Tuhan memberikan ketentraman

ya, sepengal kisah yang teringat begitu Maha Indahnya dari sang Kuasa
terima kasih. Engkau selalu memberi apa yang aku butuhkan, tidak hanya yang aku inginkan

Selasa, 18 Maret 2014

ini cerita tentang teman jauh saya
sebut saja namanya Alfin, ia laki-laki yang kini berusia 21 tahun

ia terlahir dari keluarga yang berada, dengan ayah yang memiliki usaha percetakan dan ibu seorang dosen di salah satu universitas negeri di surabaya
apa yang ia mau serba tercukupi dan tidak ada hal yang mahal menurutnya
namun semua itu berubah kala ia selesai SMA
ia tidak mau kuliah, padahal ia termasuk siswa berprestasi sejak kecil dan biaya pun tentu tak dipungkiri lagi
namun, ia malah memutuskan untuk berjualan kelontong dipasar
bergumul dalam beceknya sisa air bekas tempat ikan dan bau-bau sampah yang menggunung dipojok pasar
ia berjualan cabe, bawang merah dan putih, terkadang jika musim bunga turi, ia juga berjualan turi.

pertemuan saya yang sepintas membekas dihati saya tentang sosoknya
perawakannya putih bersih, tak cocok jika harus melantai diselembar koran sebagai alasnya
jika tak ada pembeli, ia sibuk memilah cabe yang kurang bagus ke wadah, yang nantinya ia akan jual lebih murah
dari jauh saya perhatikan, dagangannya nampak sepi
ia memang masih baru dipasar
belum banyak pelanggannya, berbeda dengan yang ada di depannya
karena sedikit iba, saya pun menghampiri dan membeli sekilo cabe serta bawang merah
saat ia menimbang, percakapan kami berlangsung
"baru ya mas."
"iya."
"umurnya berapa, masih muda sekali."
"saya 19 tahun."
"masih sekolah."
"baru lulus kemarin."
saya hanya mangut-mangut, lalu membayar.

dan hari-hari kemudian saya selalu belanja padanya sambil berbincang-bincang
dari sinilah saya tahu jati dirinya, meskipun bukan perkara mudah
ia menyembunyikan sekali identitasnya. namun dengan beberapa trik dari saya, ia akhirnya mulai terbuka
"saya takjub dengan sampeyan. jarang ada anak muda yang mau melakukan ini."
"saya bosan dengan kehidupan saya. rasanya datar-datar saja. beberapa kali melihat orang tua teman saya yang sudah akhirnya saya tersentuh."
"kenapa memilih berjualan. kenapa tidak bekerja yang lain."
"saya ingat kata guru saya, 'pekerjaan yang paling membawa keberkahan kata Rasulullah adalah berdagang sejara jujur', maka saya memilih ini."
"ow (semakin takjub, ia tidak sekedar memilih). trus modalnya."
"saya pinjem ayah, trus kalau ada untung saya cicil."
astagfirullah, bahkan ia tidak mau meminta modal pada orang tuanya.
"apa tidak kepikiran untuk kuliah."
"kuliah bisa nanti. jualan ini juga sekalian belajar untuk besok. saya tidak ingin hanya berpangku tangan dan mengandalkan kepintaran. saya ingin mengandalkan seluruh kemampuan saya untuk sesuatu yang berharga. kali saja besok bisa lebih baik lagi."

kini sudah dua tahun menuju tiga tahun pertemanan kami, saya mulai berkaca padanya
meskipun dagangannya belum berkembang pesat, ia sudah mampu mengembalikan uang ayahnya
sungguh, ia adalah pribadi yang harusnya memjadi contoh anak muda Indonesia
yang tidak hanya mengandalkan ijazah untuk melamar pekerjaan
mengharap gaji besar dan hidup enak
padahal, pekerjaan yang dimulai dari bawah akan menghasilkan sesuatu yang lebih besar nantinya
sedangkan jika langsung dari tengah atau atas, terkadang hasilnya biasa-biasa saja

inilah sepenggal kisah dari teman yang memberikan secercah asa

Surabaya yang menenangkan perasaanku 1

Selasa, 04 Maret 2014

perjalanan dari Jakarta ke Surabaya kali ini ku tempuh dengan kereta api
aku ingin merasakan ketenangan pada liburan kali ini
aku memang memutuskan untuk mengunjungi mama di Sidoarjo, namun ditengah jalan menuju stasiun Jakarta Kota aku mengurungkan niatku dan menuju Surabaya di rumah temanku Sofiyah
aku ingin mengetahui bagaimana kehidupannya setelah ia keluar dari sebuah pesantren di Kota Jombang selesai lulus SMP di Sidoarjo.
kereta berangkat pukul 13.15 WIB
aku hanya membawa ransel berisi dua potong pakaian, ponsel, air mineral dan dua novel yang baru ku beli kemarin.
aku sengaja memesan dua kursi kelas bisnis agar bisa leluasa didalam
baru sebentar aku duduk dan menenangkan diri di kursi kereta, ponselku berdering
"Ada apa Alissa." sapaku.
"Sudah sampai mana."
"Aku baru saja masuk."
"Ow, maaf aku tidak bisa mengantarmu ke stasiun."
"Tidak masalah."
"Apa kau jadi memesan 2 tiket."
"Hehem."
"kondekturnya pasti akan mengerutkan dahi. kau memang kurang kerjaan."
"itulah aku."
"ya ya, oke aku ingn kau membawakanku pecel surabaya atau petis madura."
"aku akan sangat malas jika tasku berat."
"kau pelit sekali, dijinjing pakai kantong kan bisa."
"aku tidak ingin pegal."
"ok ok, baiklah. sepertinya kau ingin sendiri. aku tutup dulu."
"ok."
dari kaca jendela aku bisa melihat bayangan orang yang duduk di bangku sebelah melihatku sejak tadi, aku menoleh.
dia tersenyum. meminta izin duduk disebelahku sebentar. aku mengizinkan
"kau Safirakan."
"anda siap."
"aku tetangga apartemenmu, depannya."
"ow, maaf, saya kurang kenal. boleh tahu namanya."
"Sandra. aku mau ke Malang, kau sendiri."
"aku mau ke Surabaya."
"Alissa tidak ikut."
"Kau kenal Alissa."
"kita kenal saat makan bersama di cafe bawah apartemen."
"em."
 "kau sendirian."
"iya. ok, kau sepertinya lelah. aku kembali ke kursiku."
"ya."